Gencatan senjata antara AS dan Iran yang diumumkan pekan lalu memang menjadi kabar baik bagi stabilitas global. Namun, pertanyaan besar tetap tersisa: ini awal dari apa?
Sejarah hubungan AS-Iran penuh dengan siklus harapan dan kekecewaan. Perjanjian nuklir JCPOA tahun 2015, yang dianggap sebagai pencapaian diplomatik terbesar, ditinggalkan oleh pemerintahan Trump pada tahun 2018. Sekarang,一个新的 kesepakatan muncul dari abu konflik.
“Kita harus belajar dari sejarah. Setiap kesepakatan di Timur Tengah selalu rapuh dan membutuhkan pemeliharaan yang konstan,” kata Prof. Juan Cole, pakar Timur Tengah dari Universitas Michigan.
“Gencatan senjata bukan perdamaian. Ini hanya jeda sebelum pertempuran berikutnya, kecuali ada komitmen politik yang nyata dari kedua belah pihak.” — Prof. Juan Cole
Beberapa analis memperingatkan bahwa kesepakatan ini bisa menjadi alat politik domestic bagi Trump menjelang pemilu 2028. “Ini tentang citra, bukan substansi. Tapi kadang-citrama bisa menjadi awal dari sesuatu yang nyata,” kata seorang analis.
Sementara itu, Iran membutuhkan pelepasan sanksi ekonomi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tanpa pelepasan sanksi, kesepakatan ini hanya akan menjadi kertas kosong.
“Perdamaian sejati butuh lebih dari sekadar gencatan senjata. Butuh saling percaya, dan itu tidak dibangun dalam semalam.” — Diplomat senior Eropa
Redaksi KADAR | 16 Juni 2026
Komentar