Investigasi terbaru mengungkap bahwa beberapa merek teknologi global “kemungkinan besar” menggunakan mineral yang berasal dari Republik Demokratik Kongo (DRC) dan digunakan untuk mendanai pemberontak yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Mineral-mineral seperti koltan, yang digunakan dalam pembuatan ponsel pintar dan perangkat elektronik lainnya, merupakan sumber pendapatan utama bagi kelompok-kelompok bersenjata di DRC.

“Konsumen di seluruh dunia mungkin tidak menyadari bahwa perangkat elektronik mereka mungkin berkontribusi terhadap konflik bersenjata di Afrika,” kata seorang penyelidik dari organisasi hak asasi manusia, Jumat (14/6/2026).

“Setiap kali kita membeli ponsel baru, kita harus bertanya: dari mana mineral ini berasal? Apakah mereka diperoleh dengan cara yang etis?” — Penyelidik Hak Asasi Manusia

Beberapa perusahaan teknologi besar telah berkomitmen untuk memastikan rantai pasokan mineral mereka bebas dari konflik, namun implementasinya masih menjadi tantangan besar. Kompleksitas rantai pasokan global membuat pelacakan asal-usul mineral menjadi sangat sulit.

Organisasi internasional mendesak pemerintah dan perusahaan untuk memperketat regulasi dan transparansi terkait perdagangan mineral dari zona konflik. Tanpa tindakan nyata, konsumen akan terus menjadi tidak sadar bahwa produk yang mereka beli mungkin berkontribusi terhadap penderitaan manusia.

“Transparansi rantai pasokan bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Perusahaan harus bertanggung jawab atas dampak sosial dari produk mereka.” — Aktivis Hak Asasi Manusia

Redaksi KADAR | 15 Juni 2026