Starbucks Korea Selatan memutuskan untuk menutup seluruh toko mereka guna memberikan pelajaran sejarah kepada seluruh karyawan. Keputusan langka ini diambil setelah perusahaan mendapat kecaman atas kampanye pemasaran ‘Tank Day’ yang dianggap tidak sensitif terhadap sejarah kelam negara tersebut.

Kampanye ‘Tank Day’ tersebut diluncurkan pada hari yang sama dengan peringatan massacre militer yang menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Korea Selatan. Banyak warga Korea yang menganggap kampanye ini sebagai penghinaan terhadap para korban yang kehilangan nyawa dalam insiden tersebut.

“Kami meminta maaf atas ketidaktahuan kami dan berkomitmen untuk memastikan insiden serupa tidak terulang,” ujar juru bicara Starbucks Korea dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (14/6/2026).

“Kami menyadari bahwa sebagai merek global, kami memiliki tanggung jawab untuk memahami dan menghormati sejarah lokal di setiap negara tempat kami beroperasi.” — Juru Bicara Starbucks Korea

Keputusan untuk menutup toko dan memberikan pendidikan sejarah kepada karyawan dianggap sebagai langkah yang tepat oleh banyak pihak. Para ahli komunikasi bisnis memuji keberanian Starbucks untuk mengakui kesalahan dan mengambil tindakan konkret.

“Ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana perusahaan multinasional harus merespons kesalahan budaya. Bukan hanya minta maaf, tapi benar-benar mengambil langkah perbaikan,” kata Prof. Kim Soo-jin dari Seoul National University.

“Pendidikan sejarah bukan untuk menghukum siapa pun, tapi untuk memastikan kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ini pelajaran berharga bagi semua perusahaan global.” — Prof. Kim Soo-jin, Seoul National University

Insiden ini menjadi pengingat bagi perusahaan multinasional tentang pentingnya memahami konteks sejarah dan budaya lokal saat meluncurkan kampanye pemasaran di berbagai negara. Beberapa analis memperkirakan bahwa kejadian ini akan mendorong perusahaan lain untuk lebih berhati-hati dalam strategi pemasaran global mereka.

Redaksi KADAR | 15 Juni 2026