Buka Pabrik Daur Ulang Terbesar, Bukti Strategi Hilirisasi Nikel Indonesia Berhasil
Fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) berskala raksasa resmi beroperasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, pada Kamis (25/6/2026). Pabrik bernilai investasi Rp12 triliun ini diklaim mampu memproses hingga 50.000 ton limbah baterai lithium-ion per tahun, menjadikannya yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Pengoperasian pabrik ini menandai babak baru dalam strategi hilirisasi tambang nikel Indonesia. Tidak hanya berfokus pada pemrosesan bijih nikel mentah, pemerintah kini berhasil membangun sirkular ekonomi tertutup (closed-loop economy) yang sangat krusial untuk memenuhi standar emisi karbon global yang ketat.
“Pabrik daur ulang ini adalah bukti nyata bahwa kita tidak hanya mengeksploitasi alam, tetapi juga memastikan keberlanjutan pasokan material kritis untuk masa depan energi hijau dunia,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi saat meresmikan fasilitas tersebut.
Beroperasinya fasilitas ini juga menjadi nilai tawar yang kuat bagi diplomasi dagang Indonesia menghadapi gugatan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Keberadaan teknologi daur ulang yang ramah lingkungan secara langsung menggugurkan argumen bahwa industri nikel domestik tidak memenuhi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Keberhasilan menggaet investor raksasa untuk sektor daur ulang akan secara otomatis meningkatkan profil daya saing baterai buatan Indonesia di pasar global,” ujar Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Target selanjutnya dari pemerintah adalah menyelesaikan pembangunan ekosistem sel baterai padat (solid-state battery) pada tahun 2028. Jika tercapai, Indonesia berpotensi memegang dominasi hingga 30 persen dari rantai pasok material baterai kendaraan listrik di seluruh dunia.
Redaksi KADAR | 25 Juni 2026


