Imbas Konflik Geopolitik, Rupiah Tembus Rp16.500 per Dolar AS Meski BI Tahan Suku Bunga

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada level Rp16.530 dalam perdagangan akhir pekan, Jumat (26/6/2026). Pelemahan ini terjadi di luar ekspektasi pasar, mengingat Bank Indonesia (BI) baru saja memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 6,5 persen sehari sebelumnya.

Depresiasi Rupiah yang mencapai 1,2 persen dalam sepekan terakhir didorong oleh gelombang pelarian modal asing (capital outflow) dari pasar surat utang negara. Para investor merespons negatif meningkatnya retorika perang dagang tahap kedua antara Amerika Serikat dan Tiongkok terkait pembatasan ekspor material semikonduktor.

“Langkah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga sudah tepat untuk menjaga pertumbuhan kredit domestik, namun sentimen eksternal yang begitu masif memaksa pasar mencari tempat berlindung yang lebih aman (safe haven asset),” kata Gubernur Bank Indonesia saat konferensi pers virtual pada Jumat sore.

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga melanda Ringgit Malaysia dan Baht Thailand. Ketergantungan struktural Asia Tenggara pada rantai pasok teknologi global membuat kawasan ini sangat rentan terhadap guncangan kebijakan dari Washington maupun Beijing.

“Pemerintah perlu mempercepat realisasi instrumen lindung nilai (hedging) yang lebih murah bagi eksportir, karena volatilitas seperti ini akan menjadi kenormalan baru hingga pemilu paruh waktu di AS usai,” papar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Dalam jangka pendek, pelaku usaha di sektor manufaktur dan farmasi yang mengandalkan bahan baku impor diperkirakan akan merevisi target margin keuntungan mereka. Pemerintah diharapkan segera mengeluarkan paket stimulus fiskal tambahan guna mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di kuartal ketiga.


Redaksi KADAR | 26 Juni 2026