Sinyal Dovish The Fed, Peluang Penurunan Suku Bunga AS Terbuka Lebar Kuartal Depan
Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Jerome Powell, memberikan sinyal eksplisit bahwa pemangkasan suku bunga acuan berpotensi besar dilakukan pada pertemuan September mendatang. Sinyal yang dikenal sebagai pandangan ‘dovish’ ini disampaikan usai rilis data tenaga kerja AS pada Rabu (24/6/2026) yang menunjukkan pendinginan signifikan.
Indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat turun ke level 2,2 persen secara tahunan, sangat mendekati target The Fed sebesar 2 persen. Angka inflasi yang terkendali ditambah dengan pelambatan pembukaan lapangan kerja baru membuat para pembuat kebijakan memiliki ruang yang cukup untuk mulai melonggarkan sabuk pengetatan moneter yang telah berlangsung selama tiga tahun.
“Kami menyadari bahwa mempertahankan kebijakan restriktif terlalu lama berisiko melemahkan pemulihan ekonomi secara keseluruhan, dan data terbaru mengonfirmasi arah tren yang kita inginkan,” kata Jerome Powell dalam kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat AS.
Pernyataan Powell langsung direspons positif oleh pasar finansial global; harga emas melonjak ke rekor tertinggi baru, sementara indeks dolar AS mengalami pelemahan. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, prospek penurunan suku bunga AS akan sangat menguntungkan karena membuka kembali keran aliran modal asing (inflow) ke pasar obligasi domestik.
“Jika siklus pemotongan The Fed benar-benar dimulai, hal ini akan memberikan ruang napas yang besar bagi Bank Indonesia untuk turut melonggarkan likuiditas demi memacu pertumbuhan kredit,” ungkap David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA).
Para analis kini memproyeksikan The Fed akan melakukan setidaknya tiga kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun 2026. Namun, risiko gangguan rantai pasok global akibat instabilitas geopolitik di kawasan Eurasia tetap menjadi faktor ketidakpastian yang diawasi ketat.
Redaksi KADAR | 24 Juni 2026


