Lebih Paham Konteks Lokal, Model AI Berbahasa Indonesia Resmi Dirilis untuk Publik

Konsorsium Riset Kecerdasan Buatan Nasional (KRKIN) secara resmi meluncurkan ‘GatotKaca-7B’, sebuah Large Language Model (LLM) pertama yang dibangun khusus untuk memahami Bahasa Indonesia dan bahasa daerah pada Jumat (26/6/2026). Model AI berlisensi sumber terbuka (open-source) ini diklaim memiliki tingkat akurasi translasi budaya jauh di atas produk buatan Silicon Valley.

Pengembangan GatotKaca memakan waktu lebih dari dua tahun dengan melibatkan klaster superkomputer milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta masukan data dari linguist di seluruh Indonesia. Berbeda dengan ChatGPT atau Gemini yang sering kali menerjemahkan idiom lokal secara harfiah, model ini dilatih untuk merespons dengan nuansa etika ketimuran dan kepekaan sosial lokal.

“Kita tidak boleh membiarkan pemahaman AI tentang budaya kita didikte oleh algoritma yang dilatih hanya dengan dataset berbahasa Inggris,” kata Prof. Hammam Riza, Ketua Umum KORIKA, saat acara peluncuran di Jakarta Pusat.

Inisiatif ini lahir dari kekhawatiran meluasnya bias kognitif dan erosi budaya digital akibat ketergantungan yang masif terhadap teknologi AI asing. Dengan tersedianya model lokal yang ringan, pengembang aplikasi tanah air (developer) kini dapat mengintegrasikan kemampuan AI secara offline ke dalam layanan publik dan pendidikan tanpa harus membayar biaya API bulanan yang mahal.

“Keunggulan utama model ini adalah kemampuannya mengenali slang, singkatan media sosial, hingga bahasa hukum pemerintahan Indonesia dengan presisi mencapai 94 persen,” ungkap Dr. Ayu Purwarianti, peneliti utama dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ke depannya, konsorsium menargetkan peluncuran versi yang lebih besar dengan 70 miliar parameter pada akhir 2027. Proyek lanjutan tersebut akan difokuskan pada integrasi pemrosesan suara (speech-to-text) guna mendokumentasikan puluhan bahasa daerah di wilayah timur Indonesia yang terancam punah.


Redaksi KADAR | 26 Juni 2026