Masa Kelam Berakhir, Startup Teknologi di Asia Tenggara Kembali Buka Ribuan Lowongan

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal atau tech winter yang melanda ekosistem rintisan teknologi (startup) sejak 2023 dipastikan telah berakhir pada pertengahan tahun ini. Laporan terbaru dari firma riset pasar teknologi SEA-Insights yang dirilis Kamis (25/6/2026) menunjukkan lonjakan pembukaan lowongan pekerjaan sebesar 45 persen di sektor digital Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai motor utama.

Perusahaan-perusahaan teknologi kini kembali aktif merekrut talenta, namun dengan fokus yang berbeda dari era pra-pandemi; mereka tidak lagi mencari pemasar agresif, melainkan ahli rekayasa data (data engineer), pengembang keamanan siber, dan spesialis otomatisasi AI. Pertumbuhan ini didorong oleh pencapaian profitabilitas dari sejumlah raksasa e-commerce (e-commerce) dan ride-hailing yang berhasil memangkas biaya operasional mereka.

“Ekosistem startup kita sudah jauh lebih sehat karena pertumbuhan yang terjadi saat ini didasarkan pada metrik keuntungan riil, bukan sekadar membakar uang investasi (cash burn) untuk mengejar valuasi maya,” kata Willson Cuaca, Co-Founder East Ventures, dalam diskusi panel industri teknologi di Jakarta.

Perubahan paradigma investor global yang kini lebih menghargai pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainable growth) memaksa perusahaan rintisan beradaptasi dengan model bisnis yang solid. Para pekerja teknologi yang sempat beralih ke sektor konvensional atau korporat kini mulai melirik kembali kesempatan di startup yang menawarkan budaya kerja fleksibel namun dengan tawaran kompensasi saham (ESOP) yang lebih masuk akal.

“Krisis ini menjadi pelajaran mahal yang mendewasakan industri; mereka yang bertahan adalah yang benar-benar menciptakan solusi esensial bagi masyarakat,” ujar Pandu Sjahrir, Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia.

Ke depannya, persaingan untuk mendapatkan talenta teknologi terbaik (tech talent war) diprediksi akan kembali memanas, terutama dengan masuknya perusahaan-perusahaan teknologi berbasis energi terbarukan (climate tech). Hal ini menuntut institusi pendidikan formal dan bootcamp digital untuk merombak kurikulum mereka agar relevan dengan kebutuhan industri pasca-tech winter.


Redaksi KADAR | 25 Juni 2026