Patroli Bersama ASEAN di Laut China Selatan, Tiongkok Layangkan Nota Protes
Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia memulai operasi patroli laut gabungan pertama di perbatasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka di Laut China Selatan pada Kamis (25/6/2026). Operasi yang dinamakan Asean Maritime Solidarity ini memicu protes keras dari pemerintah Tiongkok.
Gugus tugas yang terdiri dari delapan kapal patroli modern ini berlayar di sekitar wilayah Kepulauan Spratly untuk mengamankan jalur pelayaran komersial. Langkah ini diambil setelah terjadinya insiden intersepsi kapal nelayan oleh Penjaga Pantai Tiongkok yang jumlahnya meningkat 40 persen sepanjang paruh pertama tahun ini.
“Kami hanya menjalankan hak kedaulatan yang dijamin oleh UNCLOS 1982 dan operasi ini murni ditujukan untuk penegakan hukum regional tanpa niat provokasi,” kata Teodoro Locsin Jr., perwakilan diplomatik Filipina, dalam pertemuan tingkat menteri di Manila.
Ketegangan di perairan yang kaya akan sumber daya energi tersebut telah memasuki babak baru pasca gagalnya perundingan Code of Conduct (CoC) putaran kesepuluh bulan lalu. Manuver Beijing yang terus membangun pangkalan militer buatan membuat negara-negara kawasan terpaksa merapatkan barisan secara militeristik.
“Tindakan negara-negara tersebut telah melanggar kedaulatan teritorial Tiongkok dan secara serius merusak stabilitas kawasan,” ujar Wang Wenbin, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dalam pernyataan resminya di Beijing.
Analis keamanan memprediksi bahwa keberhasilan patroli perdana ini akan menentukan arah kebijakan keamanan maritim Asia Tenggara. Jika berhasil dipertahankan tanpa eskalasi bersenjata, model patroli gabungan ini berpotensi menjadi fondasi aliansi pertahanan laut permanen di kawasan tersebut.
Redaksi KADAR | 25 Juni 2026


