Mundur dari Target 2030: Negara G20 Ajukan Revisi Transisi Energi di KTT Iklim

Enam negara anggota G20 secara resmi mengajukan revisi penundaan target transisi energi nol emisi (Net Zero Emission) dalam Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di Jenewa pada Rabu (24/6/2026). Alasan utama yang diajukan adalah ketidakmampuan negara-negara maju merealisasikan komitmen bantuan dana iklim sebesar $100 miliar per tahun.

Delegasi yang dipimpin oleh India, Afrika Selatan, dan Brazil menuntut perpanjangan tenggat waktu penghapusan pembangkit listrik tenaga batu bara dari tahun 2030 menjadi 2040. Mereka berargumen bahwa pemaksaan transisi energi tanpa subsidi infrastruktur yang memadai telah memicu krisis pasokan listrik domestik dan pelambatan ekonomi di negara berkembang.

“Kami tidak menolak transisi hijau, namun kami menolak skenario di mana negara berkembang harus mengorbankan ketahanan energinya sementara janji pendanaan internasional terus diingkari,” kata perwakilan delegasi India, yang didukung oleh sorak persetujuan dari aliansi negara Selatan.

Krisis energi di belahan bumi utara selama musim dingin ekstrem tahun lalu juga memperlihatkan bahwa negara-negara maju sendiri diam-diam mengaktifkan kembali reaktor batu bara mereka. Fakta ini digunakan sebagai senjata diplomasi untuk menuding adanya standar ganda dalam implementasi Kesepakatan Paris.

“Mundurnya target 2030 adalah realitas pahit yang harus diterima, karena arsitektur finansial global saat ini belum dirancang untuk menopang revolusi hijau yang berkeadilan,” tegas Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), merespons dinamika sidang.

Konferensi tersebut akhirnya ditunda sementara untuk memberikan waktu bagi panel ahli menyusun peta jalan kompromi yang baru. Jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan pembiayaan yang mengikat, komitmen penanganan krisis perubahan iklim global diprediksi akan mengalami stagnasi setidaknya selama satu dekade ke depan.


Redaksi KADAR | 24 Juni 2026