Titik Terang di Gaza: Proposal Gencatan Senjata Turki Mulai Didukung Faksi Bertikai
Upaya mediasi intensif yang dipimpin oleh Turki membuahkan perkembangan positif setelah perwakilan Israel dan faksi pejuang di Gaza secara prinsipil menyetujui draf awal gencatan senjata pada Rabu (24/6/2026). Perundingan maraton selama lima hari di Istanbul ini difokuskan pada skema pertukaran tahanan dan pembukaan koridor bantuan kemanusiaan tanpa syarat.
Proposal tiga tahap yang diajukan Turki mencakup penarikan mundur pasukan bersenjata dari wilayah pemukiman di Gaza Utara selama 60 hari pertama. Selama periode tersebut, pasukan penjaga perdamaian dari koalisi negara-negara mayoritas Muslim akan diterjunkan untuk menjamin distribusi bantuan logistik internasional.
“Ini adalah jendela peluang paling nyata dalam enam bulan terakhir, dan kami meminta komunitas internasional tidak melakukan intervensi yang bisa merusak kepercayaan kedua belah pihak,” kata Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Turki, setelah sesi pleno tertutup berakhir.
Keterlibatan aktif Ankara terjadi setelah Mesir dan Qatar secara bertahap mengurangi peran mediator mereka akibat kebuntuan politik di awal tahun. Dukungan diam-diam dari Amerika Serikat yang mulai membatasi bantuan militer ofensif turut menjadi faktor penekan bagi tercapainya kesepahaman awal ini.
“Meski draf awal telah disepakati, implementasi teknis di lapangan tetap menjadi titik rawan, mengingat masih ada kelompok sayap kanan radikal yang menolak konsesi apa pun,” ujar Aaron David Miller, analis senior dari Carnegie Endowment for International Peace.
Apabila perjanjian ini resmi ditandatangani pada akhir pekan nanti, fase rekonstruksi tahap pertama akan segera dimulai dengan prioritas perbaikan infrastruktur air bersih dan rumah sakit darurat. PBB memperkirakan butuh setidaknya dua dekade untuk membangun kembali wilayah yang hancur total akibat konflik berkepanjangan tersebut.
Redaksi KADAR | 24 Juni 2026


