Pertarungan Sengit Industri OTT, Dua Raksasa Layanan Streaming Resmi Bergabung
Dua platform penyedia layanan tayangan berbayar (Over-The-Top/OTT) yang menguasai pasar konten Asia resmi mengumumkan penggabungan usaha (merger) senilai triliunan rupiah pada Rabu (24/6/2026). Aksi korporasi ini melahirkan entitas baru yang secara instan memiliki lebih dari 45 juta pelanggan berbayar di wilayah Asia Tenggara, bersaing ketat dengan Netflix dan Disney+.
Langkah konsolidasi ini didorong oleh stagnasi pertumbuhan pelanggan baru dan mahalnya biaya produksi konten orisinal yang terus membengkak (content cost inflation). Dengan bergabungnya kedua platform, entitas baru ini tidak hanya menyatukan puluhan ribu jam pustaka drama Korea, serial Tiongkok, dan sinema lokal Indonesia, tetapi juga berbagi beban biaya server teknologi (bandwidth) yang sangat mahal.
“Di tengah persaingan di mana audiens memiliki batas toleransi dalam berlangganan aplikasi, konsolidasi adalah jalan satu-satunya agar kami bisa bertahan dan terus memproduksi tayangan berkualitas,” kata CEO entitas hasil merger tersebut dalam rilis surat elektronik kepada para pemegang saham.
Tren penggabungan di industri media digital ini sudah diprediksi sejak tahun lalu, mengingat masyarakat mulai mengalami kelelahan (subscription fatigue) dalam mengatur terlalu banyak tagihan platform. Para analis menilai bahwa kompetisi kini tidak lagi sekadar memperbanyak jumlah film, melainkan siapa yang mampu menawarkan paket bundel berlangganan yang disatukan dengan layanan operator seluler.
“Bagi industri kreatif lokal, merger ini ibarat pedang bermata dua; di satu sisi peluang distribusi konten semakin luas, namun di sisi lain kekuatan tawar produser rumah produksi (PH) akan semakin lemah dalam negosiasi harga beli naskah,” ujar pengamat industri media dari Universitas Indonesia.
Pihak manajemen memastikan bahwa transisi akun pelanggan dan aplikasi tidak akan mengganggu layanan yang sedang berjalan, dan harga paket berlangganan tidak akan dinaikkan setidaknya hingga akhir tahun depan. Ke depannya, entitas raksasa baru ini diprediksi akan semakin agresif mengakuisisi hak siar tayangan olahraga (live sports) guna mengikat kesetiaan penggunanya secara jangka panjang.
Redaksi KADAR | 24 Juni 2026


