Tembus 12 Juta Penonton, Film Horor Lokal Kembali Rajai Box Office Asia Tenggara
Film horor yang mengangkat mitologi mistis tanah Jawa, “Kala Sengkala”, resmi mencetak sejarah baru dengan menembus angka 12,5 juta penonton di hari ke-20 penayangannya pada Jumat (26/6/2026). Angka fantastis ini tidak hanya memecahkan rekor box office domestik, tetapi juga menjadikannya film Asia Tenggara terlaris tahun ini mengalahkan gempuran film pahlawan super Hollywood.
Kesuksesan luar biasa ini didorong oleh strategi pemasaran gerilya di platform video pendek dan efek penyebaran dari mulut ke mulut (word of mouth) yang masif. Selain tayang di Indonesia, film yang disutradarai oleh sineas muda berbakat ini juga mendominasi layar bioskop di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam dengan mengantongi pendapatan kotor lebih dari Rp500 miliar.
“Kami tidak pernah menyangka antusiasme penonton akan sebesar ini; pada awalnya kami hanya menargetkan tiga juta penonton untuk sekadar balik modal,” kata produser film tersebut dalam acara syukuran dan konferensi pers di Jakarta Selatan.
Dominasi genre horor di industri sinema lokal telah menjadi tren yang tak terbantahkan sejak kebangkitan industri perfilman pasca-pandemi. Para pengamat budaya pop menilai bahwa kedekatan emosional masyarakat dengan legenda urban (urban legend) dipadukan dengan kualitas efek visual (CGI) yang semakin mumpuni merupakan formula jitu yang sulit ditiru oleh film impor.
“Penonton kita sudah semakin cerdas dan menuntut kualitas produksi yang tinggi; ‘Kala Sengkala’ membuktikan bahwa dengan naskah yang kuat, film lokal bisa menguasai rumahnya sendiri,” ujar Joko Anwar, sutradara senior yang turut mengapresiasi pencapaian tersebut.
Keberhasilan film ini diproyeksikan akan memicu gelombang investasi baru dari studio-studio besar asing yang mulai melirik potensi pasar dan talenta sineas Indonesia. Hak adaptasi (remake) film ini bahkan dikabarkan tengah menjadi rebutan antara dua platform layanan streaming raksasa asal Amerika Serikat untuk diproduksi ulang bagi audiens global.
Redaksi KADAR | 26 Juni 2026


