Iuran Tidak Naik, BPJS Kesehatan Resmi Tanggung Biaya Skrining Kanker Paru
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan secara resmi memperluas cakupan layanannya dengan menanggung penuh biaya skrining awal (deteksi dini) untuk kanker paru-paru dan payudara mulai Jumat (26/6/2026). Kebijakan populis ini dipastikan tidak akan diikuti oleh kenaikan iuran bulanan bagi peserta mandiri kelas 1, 2, maupun 3.
Keputusan penambahan manfaat ini diambil menyusul lonjakan signifikan kasus kanker stadium akhir yang membebani kas jaminan kesehatan hingga belasan triliun rupiah tahun lalu. Dengan mengalihkan fokus anggaran pada pencegahan (preventif), pemerintah berharap tingkat kesembuhan pasien (survival rate) dapat meningkat sekaligus menekan biaya pengobatan paliatif yang sangat mahal.
“Investasi pada deteksi dini adalah langkah paling logis secara medis maupun ekonomi; mengobati kanker di stadium satu jauh lebih murah daripada menanggung biaya kemoterapi panjang di stadium empat,” kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI, usai rapat dengar pendapat dengan DPR di Senayan.
Penerapan program skrining gratis ini akan difokuskan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik pratama. Untuk mendukung kelancaran program, kementerian telah mendistribusikan lebih dari 2.000 alat USG portabel terkalibrasi AI (Kecerdasan Buatan) ke daerah-daerah terpencil guna mempercepat proses diagnosis awal tanpa harus merujuk pasien ke rumah sakit provinsi.
“Ini adalah kemenangan besar bagi hak kesehatan masyarakat, namun tantangan berikutnya adalah bagaimana BPJS memastikan ketersediaan reagen dan obat kemoterapi generik yang sering kosong di rumah sakit daerah,” ujar dr. Adib Khumaidi, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Bagi peserta yang ingin memanfaatkan layanan skrining ini, mereka cukup datang ke puskesmas terdaftar dengan membawa kartu identitas, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat genetik atau berstatus sebagai perokok aktif di atas 40 tahun. Ke depannya, skema serupa akan diterapkan untuk deteksi dini penyakit gagal ginjal kronis pada awal tahun depan.
Redaksi KADAR | 26 Juni 2026


