Lepas Ketergantungan Impor, Bio Farma Ekspor Perdana Vaksin DBD ke Pasar Afrika
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor farmasi, PT Bio Farma, secara resmi melakukan pengiriman ekspor perdana 5 juta dosis vaksin Demam Berdarah Dengue (DBD) ke sejumlah negara di kawasan Afrika Sub-Sahara pada Rabu (24/6/2026). Pencapaian ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara berkembang yang mampu memproduksi vaksin endemis kompleks secara mandiri.
Vaksin rekombinan yang diberi nama ‘DengueVax-Nusantara’ ini merupakan hasil riset gabungan antara peneliti lokal dan Universitas Padjadjaran (Unpad) selama hampir satu dekade. Uji klinis fase tiga menunjukkan tingkat kemanjuran (efikasi) mencapai 89 persen dalam mencegah rawat inap akibat infeksi virus dengue untuk seluruh rentang usia tanpa perlunya uji prasyarat paparan (serostatus).
“Pelepasan ekspor ini adalah bukti bahwa kita tidak lagi sekadar menjadi pasar konsumtif bagi raksasa farmasi global, melainkan telah bertransformasi menjadi penyedia solusi kesehatan (hub) bagi negara-negara selatan dunia (Global South),” kata Erick Thohir, Menteri BUMN, saat meresmikan pelepasan kargo di Bandara Soekarno-Hatta.
Keberhasilan produksi dalam negeri ini langsung berdampak pada penurunan harga pokok vaksin DBD di fasilitas kesehatan domestik hingga 60 persen dibandingkan produk impor. Pemerintah juga berencana memasukkan vaksin ini ke dalam program imunisasi dasar nasional pada tahun anggaran berikutnya untuk mempercepat eradikasi penyakit mematikan yang kerap meledak di musim penghujan tersebut.
“Inovasi bioteknologi lokal ini mematahkan pesimisme banyak pihak; dukungan pendanaan riset berkesinambungan terbukti mampu melahirkan kedaulatan farmasi (health sovereignty) yang sesungguhnya,” ujar Prof. dr. Kusnandi Rusmil, ketua tim peneliti uji klinis vaksin dari Fakultas Kedokteran Unpad.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menerbitkan sertifikasi prakualifikasi kelayakan (Prequalification) untuk vaksin ini, memungkinkan Unicef untuk memesannya dalam jumlah besar. Ke depannya, Bio Farma sedang mematangkan pengembangan teknologi vaksin berbasis mRNA (messenger RNA) untuk mengantisipasi potensi patogen jenis baru di masa depan.
Redaksi KADAR | 24 Juni 2026


